Kamis, 04 Juli 2013

sejarah panjang Bonek

Bonek (Bondo Nekat)
http://2.bp.blogspot.com/-m9HTY5YY9jY/UQqmcUvtyyI/AAAAAAAAAxE/AC1tNqlCzzw/s1600/image-upload-75-791622.jpgBonek awalnya adalah kumpulan suporter fanatik pendukung tim Persebaya, akronim dari bandha (dibaca: bondho) nekat (bermodalkan nekat). Seiring perjalanan waktu, mereka membangun apa yang disebut sebagai identitas sosial (social identity) kelompok.

Mereka mengembangkan identitas, peraturan (rule), tata nilai dan perilaku, atribut, serta kultur yang menggambarkan jati diri mereka sebagai kelompok suporter yang bermodalkan kenekatan. Setiap anggota kelompok selanjutnya akan menginternalisasi, mengidentifikasi dirinya, dan membawanya dalam segenap sikap dan perilakunya. Terutama ketika berada dalam komunitas mereka.

Menurut perspektif penulis, cetusan bondho nekat yang kemudian menjadi nama kelompok suporter ini memang membawa implikasi negatif yang cukup serius. Nama (naming) sesungguhnya memiliki arti yang sangat strategis bagi sebuah kelompok karena akan menjadi rujukan dan identifikasi awal bagi anggotanya.
Nekat menggambarkan sebuah situasi keberanian untuk mencapai sebuah tujuan yang cenderung dilakukan tanpa perhitungan yang matang sehingga kerap menghalalkan segala cara dan mengesampingkan kalkulasi etis normatif.

Identitas sosial inilah yang agaknya terinternalisasikan dengan baik dalam ruang batin oknum (untuk tidak mengatakan sebagian besar) bonek. Bonek itu harus fanatik mendukung Persebaya apapun caranya.
Meskipun penulis yakin, bonek sebagai sebuah organisasi tidak pernah mengajarkan hal ini, fakta di lapangan adalah aksioma tak terbantahkan dari kebrutalan anggota mereka.

Dinamika mereka akan menarik dikaji dalam sebuah situasi massa berupa kerumunan (crowd), ketika di sana juga dikibarkan panji dan atribut kelompok bernama bonek.

Meminjam Gustaf Le Bon (1841-1932), massa memang memiliki jiwa tersendiri yang disebutnya sebagai jiwa massa (collective mind) yang bersifat primitif, buas, liar, destruktif, impulsif, cepat tersinggung, sentimentil, sangat mudah disugesti, gampang tersulut provokasi, agresif, anarkis, dan seringkali berlaku di luar kendali aturan.

Jiwa massa ini bisa jadi sangat berbeda dari jiwa individu (individual mind) yang asli/sejatinya. Artinya bahwa individu dengan segenap karakteristk kejiwaannya, ketika telah masuk menjadi bagian dari massa, bisa jadi akan luruh dan larut ke dalam jiwa massa tersebut.

Dalam ranah psikologi, proses ini sebagai deindividuasi, ketika individu tidak lagi mampu mempertahankan identitas kesejatian dan karakteristik pribadinya, digantikan oleh suatu identitas dengan tujuan kelompok. Tanggung jawab pribadi seakan hilang karena semua perilaku adalah bagian dari perilaku kelompok. Implikasinya, individu cenderung melarikan diri dari rasa tanggung jawab dan mengesampingkan konsekuensi tindakannya.

Kondisi ini akan diperparah dengan anonimitas yang makin mengaburkan identitas pribadi, sehingga perilaku antisosial yang dilakukan pun akan semakin tak terkendali karena responsibilitas yang mencapai titik nadir. Instrumen hukum kadang tidak berdaya menghadapi kekuatan massa yang jumlahnya seringkali jauh melebihi aparat penegaknya.

Sepakbola sesungguhnya adalah bagian dari peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Sepak bola adalah cabang olahraga yang paling populer yang tidak hanya mengajarkan kebugaran fisik, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan, kolektivitas, semangat juang, kerja keras, serta menjunjung tinggi aturan-aturan main.
Sebagai pecinta bola Tanah Air, sungguh penulis merasa sangat prihatin dengan kejadian brutal ini, seraya berharap kasus ini tidak terulang kembali. PSSI sebagai wadah tertinggi persepakbolaan jelas patut dimintai pertanggungjawaban. Prestasi timnas kita yang buruk, liga di Indonesia yang acakadut, mafia wasit, baku hantam antarpemain, kerusuhan dan anarkisme suporter adalah bukti betapa PSSI tidak pernah serius membenahi sepak bola Nusantara.

Bonek adalah sepenggal kisah buruknya wajah persepakbolaan dan kinerja PSSI yang menaunginya. Bukan kali ini saja bonek berulah menebar anarki. Kasus ini menjadi momen istimewa yang semestinya telak menampar PSSI, karena terjadi justru pada saat bonek masih mendapatkan sanksi Komdis PSSI untuk tidak mendampingi pertandingan tandang Persebaya.

Apa yang terjadi sebenarnya tidak sekadar mengabarkan pada kita bahwa Persebaya dan bonek melecehkan sanksi dari PSSI, namun juga fakta bahwa mereka tidak pernah serius berbenah diri. Persebaya tidak mampu mengorganisasikan suporternya yang telanjur mengidentifikasi dirinya sebagai bondho nekat yang fanatik dan bebas melakukan apa saja, termasuk aksi kriminal yang mengangkangi hukum.
Atas nama kepentingan bersama, persepakbolaan Tanah Air dan keadaban serta ketenteraman masyarakat, sanksi yang lebih tegas layak diberikan kepada Persebaya.

Apabila perlu, dieliminasi dari Liga Super untuk memberikan efek jera sekaligus pembelajaran bagi Persebaya dan bonek, serta seluruh pelaku persepakbolaan nasional agar lebih bijak dalam segenap langkah dan kebijakannya. Harapannya, klub dan suporter dapat besinergi secara cerdas dan beradab untuk membangun kekuatan persepakbolaan nasional.

Sungguh tidak bijaksana, apabila dukungan itu justru menjelma menjadi fanatisme picik yang menghalalkan kekerasan dan anarkisme, yang sangat jauh dari sportivitas. Apalagi, jika dukungan tersebut justru menjadi biang perpecahan dan permusuhan di antara sesama anak bangsa dan meruntuhkan keadaban kita

persebaya harga mati

PERSEBAYA SURABAYA

Semakin menjamurnya klub klub sepakbola di eropa pada akhir abad ke 18 juga berpengaruh terhadap negara koloninya. Salah satunya adalah Indonesia (Hindia Belanda) yang menjadi jajahan belanda. Hal tersebut ditandai dengan lahirnya dua klub sepakbola pertama yaitu Sparta dan Victoria di Surabaya pada tahun 1906. Kedua klub tersebut adalah buatan orang-orang Belanda, P. Swens, A Mesrope, A.C Edgar dan E.W Edgar. Pada jaman tersebut, pribumi sangat dianaktirikan, perlakuan tersebut berdampak pada sepakbola, klub-klub tersebut hanya diisi oleh orang-orang Belanda yang ada di Surabaya. Bahkan saat itu pemerintah kolonial saat itu juga melarang warga pribumi bermain sepakbola di lapangan mereka.
Sepakbola seolah menyihir masyarakat saat itu, alhasil antusiasme orang-orang Belanda yang senang akan sepakbola membuat orang orang Belanda lain untuk membuat klub-klub baru, akirnya muncul THOR (Tot Heil Onzer Ribbenkast), Exelsior, dan HBS (Houdt Braef Standt). Persepakbolaan di Surabaya pada saat itu sudah menggeliat. Puncaknya, pada saat klub tionghoa pertama di Surabaya yaitu Tiong Hoa juara dikejuaran antar klub tionghoa yang ada diseluruh pulau Jawa.
Sukses Tiong Hoa tersebut semakin menggairahkan demam sepakbola saat itu. Kemudia lahirlah SVB (Soerabaiasche Voetbal Bond) oleh orang-orang Belanda pada tahun 1910. Adapun anggotanya pada saat itu antara lain:
- THOR (klub ini bertahan sampai sekarang, anggota klub internal Persebaya kelas I)
- Exelcior
- Ajax
- Zeemacht
- RKS
- Mena Moeria
- HBS (klub anggota kelas 2 internal persebaya, tapi singkatannya menjadi HBS (Harapan Budi Setiawan))
- Annasher (sekarang Asayabab)
- Tiong hoa
9 klub pada saat itu, belum ada satupun orang pribumi yang bermain untuk klub-klub tersebut.
Kebangkitan arek-arek Suroboyo
Pemerintah Hindia-Belanda yang melihat potensi yang dimiliki kota Surabaya akhirnya membangun komplek Lapangan Tambaksari. Pada waktu itu komplek Lapangan Tambaksari terdiri dari 3 Bagian, Lapangan A sekarang Stadion Gelora 10 November, Lapangan B sekarang menjadi lapangan Persebaya, dan Lapangan C sekarang menjadi TRS (Taman Rekreasi Surabaya) atau lebih dikenal dengan THR.
Lambat laun, SVB (Soerabaiasche Voetbal Bond) semakin berkembang, banyak peminat, namun juga diikuti berbagai masalah. Kemudian, muncul saingan SVB yaitu SKVB (Soerabaische Kantorr Voetbal Bond), dimana SKVB ini anggota klub –klubnya berasal dari intansi-intansi Belanda. Anggota SKVB pada saat itu adalah Aniem, BPM, Brantas, DSS, Gemeentee Sport Vereeniging, Internatio, V. SS, De Vrijbuiters, Douane dan Factotij. Sayang, dalam perkembangannya kompetisi ini gagal menunjukkan kualitas yang mendasari tujuan berdirinya, yaitu memperbaiki kekurangan SVB.
Sayangnya diskriminasi terhadap pribumi masih terjadi, banyaknya anak muda yang bermain bola dijalanan-jalanan kota Surabaya. Prihatin dengan kondisi tersebut beberapa orang menengah keatas di Surabaya yang melihat potensi sepak bola yang ada di Surabaya mendorong berdirinya klub klub sepakbola pribumi. Akhirnya satu persatu klub-klub pribumi lahir di Surabaya. Ada Selo, Maroeto, Olivio, Tjahaya Laoet, REGO, Radio, dan PS Hizboel Wathan. Kemajuan klub-klub pribumi semakin dapat menyaingi klub-klub Belanda, tapi karena pada saat itu Belanda menguasai (menjajah) Indonesia, pribumi tetap menjadi korban diskriminasi, padahal prestasi dan skill orang-orang pribumi pada waktu itu tidak kalah dengan orang Belanda.
Persamaan nasib, persamaan visi dan misi. Akirnya pada tahun 1927, dibawah prakarsa Paidjo dan M. Pamoedji pada 18 Juni 1927 klub-klub pribumi membentuk SIVB (Soerabaiasche Indische Voetbal Bond), inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Persebaya. Kompetisi pertama SIVB dilaksanakan di lapangan pasar turi dengan peralatan seadanya, tapi respon masyarakat Surabaya bagus saat itu kepada SIVB. SIVB pada tahun 1927 sampai pada awal 1930 sering mengadakan kompetisi internal. Karena ketatnya kompetesi internal, SIVB akirnya dapat diisi dengan pemain-pemain yang berkualitas.
Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung, MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. IVB mengadakan kompetisi Perserikatan setahun kemudian, dan prestasi SIVB muncul pada tahun 1938, ketika itu berhasil mencapai final sebelum dikalahkan VIJ Jakarta.
Pada tahun 1942, Jepang yang menginvasi Indonesia mulai sedikit demi sedikit menghilangkan ke-Belanda-an Indonesia. Hal-hal berbau Belanda harus dihapuskan, termasuk orang-orang Belanda yang menjabat di Instansi-intansi tertinggi. Nama-nama berbau Belandapun harus diganti, akirnya pada tahun 1943, nama SIVB berganti menjadi PERSIBAJA (Persatuan Sepakbola Indonesia Surabaja). Padahal saat itu prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pribumi dan sebagian kecil lainnya adalah tionghoa bisa dibilang sedang melejit. Sayang mereka kembali kalah oleh Persis Solo di final.

Akirnya Persibaja yang saat itu diketuai oleh Dr. Soewandi sukses menjadi Juara Perserikatan tahun 1950! Inilah pertama kalinya Persibaja memperoleh juara pada kompetisi Perserikatan setelah menang melawan Persib Bandung. Tidak sampai disitu, Persibaja memperoleh hattrick juara setelah berturut-turut menjuarai Perserikatan pada tahun 1950, 1951 dan 1952.
Pada tahun 1960, Persibaja berganti nama sesuai ejaan baru yaitu PERSEBAYA. Setelah berganti nama, Persebaya yang menjadi tim paling ditakuti sejak era Belanda berhasil memperoleh julukan spesialis runner-up kompetisi Perserikatan pada tahun 1965, 1967, 1971, 1973 dan 1977. Bersama PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta persebaya mendominasi kancah persepakbolaan nasional.